Sabtu, 27 Februari 2010

Ketika Harus Berbagi



Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

Sudah menjadi sunnatullah manusia hidup di dunia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Maka dibutuhkan suatu sinergi yang baik untuk setiap usaha yang kita lakukan, karena kemampuan yang kita miliki selalu terbatas. Maka disinilah rasa persaudaraan memainkan peran yang besar dalam membangun suatu sinergi yang luar biasa. Demikian juga dalam kehidupan berbangsa, sinergisasi antar banga dibutuhkan dalam mengukuhkan peranannya pada pentas Internasional. Maka dukungan sekutulah yang membuat Amerika begitu kuat saat ini. Maka dukungan yang besar jugalah yang menjadikan mujahudin Afganistan terus bertahan, kemudian menundukkan Uni Sofyet. Dan sinergi antar bangsa jugalah yang telah melahirkan Negeri ini di pnghujung Perang Dunia II, maka lihatlah bagaimana dukungan itu terbangun pada masanya.

17 agustus 1945, Soekarno-Hatta yang mengatasnamakan seluruh rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan bangsanya kehadapan dunia. Sebuah tantangan baru untuk mambangun bangsa yang mandiri dan bermartabat kini harus dihadapi bersama. Karenanya, proklamasi sesungguhnya hanyalah awal dari proses panjang untuk mengukuhkan kemerdekaan. Permasalahan yang selanjutnya dihadapi adalah pengakuan internasiaonal atas berdirinya Negara baru yang mengaku sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Besarnya tantangan itu tampak pada tatanan dunia kala itu yang diatur dalam pada Piagam PBB, 24 Oktober 1945. Terjadi sebuah benturan antara cita-cita Bangsa dengan peraturan Internasional yang sama sekali tidak mengacu (mendukung) pada penentuan nasib sendiri sebagaimana proklamasi yang dilakukan bangsa Indonesia. Maka petanyaan yang akan dihadapi adalah “apakah Anda boleh menyatakan kemerdekaannya sendiri?”. Dan inilah yang manjadikan bangsa ini cenderung terpojokkan jika tidak mendapatkan dukungan yang besar di dunia internasional.

Terlepas dari perjuangan diplomasi bangsa Indonesia yang luar biasa, dibuktikan dengan diperolehnya kedaulatan penuh atas bangsa ini, setelah dilakukannya proses diplomasi yang panjang. Juga dahsyatnya semangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaannya. Namun yang juga penting adalah peran saudara-saudara kita dalam membantu mengukuhkan kedaulatan negeri mayoritas muslim ini. maka negara pertama kali yang berani mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir 1949, yang kemudian disusul oleh negara-negara Timur tengah lainnya. Namun, gerakan ikhwanul muslimin adalah gerakan yang pertama kali memberikan support bagi kemerdekaan Indonesia. Inilah yang selanjutnya menjadi modal besar untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. sehingga Indonesia dapat berdiri sejajar dengan Belanda dalam segala macam perundingan di lembaga internasional. Hingga Akhirnya pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) pada 1950, Belanda harus mengakui kemerdekaan Indonesia meski hanya sebatas negara federal dan bukan negara kesatuan.
Tidak berhenti sampai disitu, dukungan ternyata terus mengali dari muslim internasional sebagaiman dikisahkan dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc.
pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia di dalam sidang lembaga tersebut. Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris oleh dunia islam merebak. Sholat ghaib dilakukan masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran Surabaya. Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejurusan lain.”

Bahkan sebelum bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya “.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Dari sumber yang sama diceritakan seorang Palestina sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

Kisah tersebut hanyalah sedikit dari dukungan dunia Islam untuk negeri ini. Peristiwa tsunami di Aceh beberapa tahun yang lalu juga memberikan kisah tersendiri tentang persaudaran kita. Kini meski belum dapat tumbuh sempurna, Indonesia telah mulai menjadi negara yang madiri. Dan negeri-negeri muslim lain saat ini membutuhkan dukungan dari saudaranya. Palestina yang dahulu mendukung penuh kemerdekaan kita kini tengah memperjuangkan kemerdekaan negaranya sendiri. Saudara kita di berbagai belahan bumi lainnya tengah memperjuangkan hak-hak atas keislamannya (hak beragama). Muslim Thailand yang terus di balut konflik dengan pemeritahnya. Iran yang terus dikucilkan karena kevokalannya. Muslim turki yang mulai bangkit atas sekulerisme yang merusak negaranya. Dan berjuta saudara kita yang terus berjuang mempertahankan hidup di negerinya, bahkan di negeri ini.

Mereka memang harus ikhlas dalam memberi, tapi ini adalah cara kita untuk berterima kasih. Mereka memang tidak pernah mengemis untuk sebuah pertolongan, tapi ini adalah bukti persaudaraan kita. Maka tidaklah salah jika kita sedikit terus bersimpati dan membantu segala perjuangan mereka. Kerena, sesungguhnya mereka membutuhkan dukungan dari saudranya di negeri berpenduduk muslim terbersar ini. Maka tidaklah salah jika kita terkadang harus meneriakan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan terhadap dunia islam. karena dahulupun, saudara-saudara kita meneriakan penolakan atas usaha belanda mengukuhkan kembali kedudukannya disini. Maka tidaklah salah jika KAMMI IPB membentuk Badan for Palestine dalam struktur kepengurusannya. Karena, dahulupun Hasan Albana membentuk organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini di negaranya. Juga tidak perlu dipermasalahkan jika kita akan menggelar acara besar guna penggalngan dana atas saudara kita yang membutuhkan.
http://soulofsaveourpalestine.blogspot.com

Ahmad Yasin
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...