Senin, 26 April 2010

Fenomena Tanpa Batas dalam Pengamatan yang Terbatas


“Dialah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian dia bersemayam diatas arsy, dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dia bersamamu dimanapun kamu berada. Dan Allah maha melihat atas apa yang kamu kerjakan ” (Alhadid:4)

Maha suci Allah yang telah menciptakan Alam ini dengan keteraturan yang luar biasa untuk kita (manusia). Dan diberikannya kepada kita akal sebagai bagian dari keteraturan itu sendiri. maka dengannya kita diperintahkan untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah.

Lompatan-lompatan ilmu pengtahuan abad duapuluh melukiskan kemajuan yang pesat dalam sejarah peradaban manusia. Dan kini kita melihat tatanan dunia yang luar biasa dalam pengelolaan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia terus berkarya dengan kecerdasan yang diberikan Allah sebagai pemuliaan terhadap manusia yang dipercayanya untuk mengelola bumi ini. Dengan bekal akal (kecerdasan) inilah yang kita sampai pada peradaban ilmu yang belum pernah terbayang dalam benak manusia beberapa waktu silam.

Namun Alam ini terlalu luas jika hanya kita jelajahi dengan logika keilmuan kita yang terbatas. Bahkan Ia pun telah membatasi semua kemampuan indera yang kita miliki. Lihatlah pendengaran kita yang hanya mampu menangkap suara dalam frekwensi yang tertentu. Mata kita dengan cahaya tampaknya yang mampu dibaca. dan seterusnya, demi keseimbangan atas kesempurnaan semua ciptaannya kitapun lahir dengan segala keterbatasan.

Sayang kebanyakan manusia yang tidak menyadarinya, mereka terlalu berbangga dengan feomena tampak yang dikuasai keilmuannya. Padahal fenomena tersebut tampak kerena indera kita mampu menangkapnya. Dan ilmu pengtahuan yang kita pelajari telah mengungkapkan sejauh mana keterbatasan indera yang kita miliki, lalu mereka berusaha menguranginya dengan alat-alat yang mereka ciptakan. namun sadarkah alat yang diciptakan dengan keterbatasan, pastilah juga memiliki kemampuan yang terbatas.

Tapi, Allah menciptakan alam ini begitu luas dan batasannya belum mampu dirediksi oleh manusia apalagi dibacanya. Maka seringkali kita menganggap aneh fenomena-fenomena diluar kewajaran logika. Disinilah kita sering lupa akan keterbatasan kita. Kita boleh terus berusaha mengungkapkan ketidakwajaran itu dengan logika kita, lalu membuktikannya dengan rangkaian uji coba. Namun kita tidak pernah dapat menolak fenomena-fenomena tersebut.

Sekedar contoh mari sedikit membaca fenomena alam yang belakangan menyita perhatian manusia. Setidaknya terdapat dua fenomena yang mendasari perkembangan pengetahuan Fisika modern yang terus berkembang secara perlahan. Yang pertama fenomena kecepatan yang sangat tinggi (mendekati kecepatan cahaya) dengan teori dasarnya adalah postulant Einstein yang muncul akibat ketidaksesuaian beberapa fenomena yang teramati dalam laboratorium. Postulat ini sedikit mampu memecahkan solusi tentang relativitas waktu. Perubahan panjang dan lainnya. Teorinya sedikit membuka mata kita akan relatifitas waktu yang sering diungkapkan dalam AlQuran, beberapa fenomeanya belakangan dapat diamati. Namun teori inipun belum mutlak. Ia tetap menjadikan hokum mekanika klasik sebagai dasar pengembangannya dengan asumsi kecepatan cahaya konstan untuk semua pengamat yang bergerak maupun diam untuk mengembangkannya. Diluar belum dapat teramati (terbukti) secara menyeluruhnya (pasti) teori ini, Einstein membatasi kecepatan cahaya sebagai kecepatan tercepat, yang harus kita akui bahwa dimungkinkan akan ditemukan kecepatan diatas kecepatan itu. Maka inilah awal keterbatasan kita.

Yang berikutnya adaah fenomena kuantum yang mencoba meramalkan perilaku elektron. Berbeda dengan teori relativitas yang berusaha dijelaskan tanpa bertentangan dengan hukum mekanika klasik yang memang sudah tak terbantahkan, teori kuantum justru hanya bisa dijelaskan tanpa banyak memedulikan itu. Schrodinger merumuskan suatu persamaan yang belum bisa dihubungkan dengan teori klasik. Jika Einstein mengubah semua persamaan fisika untuk kecepatan tinggi dengan menganggap kecepatan cahaya yang konstan, Schrodinger justru mengubah semua persamaan fisika untuk elektron dengan sebuah persamaan yang ia sendiri kesulitan menjelaskan bagaimana persamaan tersebut dimunculkan. Maka postulatnya muncul dalam bentuk sebuah persamaan yang tidak mampu dijelaskan oleh hokum klasik namun selalu tepat dalam uji laboratorium. Berbeda dengan Einstein yang teorinya baru teramati dalam tataran laboratorium yang juga masih banyak dalam asumsi, postulat Schrodinger justru telah mendasari semua perangkat elektronika modern meski asal teorinya sulit dijelaskan.

Maka yang harus kita pahami, setiap kondisi memiliki ketetapannya masing-masing yang sulit untuk digeneralisasikan, sehingga akan ada batasan untuk setiap teori yang diungkapkan oleh manusia. Teori mekanika klasik terbatas pada benda makro berkecepatan rendah. Dahulu kita menganggap atom sebagai bagian terkecil yang tek mampu dipecah, namun sekarang kita sedang berusaha mengungkapkan fenomena elektron yang merupakan bagian dari atom itu sendiri. lalu apakah masalah akan selesai jika kita benar-benar telah menyelesaikan permasalahan elektron yang kini dibatasi oeh perinsip ketidakpastian Heisenberg..? lalu, bagaimana dengan fenomena lainnya setelah permasalahan fisikanya terpecahkan untuk masing-masing kondisi..?

yah.. ilmu kita memang terbatas, namun ia akan dapat terus berkembang dengan izin Allah. Tapi ketahuilah sejauh apapun kita melangkah nanti, ilmu yang kita miliki hanya seperti setetes air ditengah luasnnya samudera, jika dibandingkan dengan ilmu Allah yang begitu luas. “… dan dia maha mengetahui segala sesuatu” (Alhadid:3)

Sungguh… maha benar Allah atas segala firmannya

Sungguh… maha besar Allah atas semua ciptaannya

Sungguh… maha kuasa Allah atas semua kehendaknya

Sungguh… maha mengetahuinya Allah atas segala sesuatunya

Subhanallah… subhanallah….

Ahmad Yasin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...