Kamis, 12 Juli 2012

IMF : Racun yang Disangka Obat


Niat baik untuk membantu memulihkan ekonomi dunia agar tidak meluas sebenarnya tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Meluasnya krisis ekonomi dunia sangat mungkin menimpa Indonesia sehingga berdampak pada terkurasnya cadangan devisa yang jauh lebih besar. (dana yang dipinjamkan melalui IMF diambil dari cadangan devisa - bukan dari apbn/apbd). Tapi melalui IMF? Bagiku, disanalah masalahnya.

Campur tangan lembaga keuangan internasional tersebut dalam penyelesaian ekonomi bangsa ini pasca krisis moneter 1997 silam memaksa negeri ini merubah berbagai macam kebijakan ekonominya. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari pinjaman yang bunganya justru manambah pelik permasalahan negeri ini. Foto penandatanganan bantuan yang dilakukan Presiden Soeharto kala itu menggambarkan penjajahan gaya baru. Kapitalisme liberal, seperti itulah gambaran yang tampak dari poin-point perjanjian disana tentang Indonesia.


Mempercayai IMF sebagai pemulih ekonomi global berarti mempercayai sistem liberalisme sebagai solusi dari permasalahan ekonomi dunia. Ini sangat tidak realistis ketika kita melihat sistem itu mengalami kegagalannya beberapa dekade terakhir ini. Gambaran ini tampak dengan jelas di pusat-pusat liberalisme. Disanalah guncangan krisis ekonomi sangat terasa hebatnya, ditempat yang seharusnya dijadikan model. Dengan kondisi demikian seharusnya system ekonomi tersebut tidak lagi dipaksakan untuk diformulasikan ulang sebagai penawar. 

Sebagai negara ekonomi baru yang tidak mengadopsi penuh sitem ekonomi liberalis (katanya sitem ekonomi Indonesia ekonomi kerakyatan) seharusnya mampu menawarkan solusi yang berbeda kepada dunia. Kemampuan Indonesia mempertahankan nilai pertumbuhan ekonominya ditengah gempuran krisis global menjadi perhitungan tersendiri. Kestabilan ini juga yang membuktikan katahanan sistem yang diterapkan di negeri ini. 

Sistem ekonomi islam yang lebih dekat dengan ekonomi kerakyatan (Indonesia), sebenarnya mempunyai lembaga keuangan Internasional yang dibangun untuk mengembangkan sitem ekonomi islam terutama di negara-negara berpenduduk muslim. Islamic Development Bank(IDB), didirikan dengan tujuan mendorong kemajuan pembangunan sosial dan ekonomi negara-negara anggota dan masyarakat Muslim secara individu maupun bersama-sama sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yaitu, Hukum Islam. Bank syariah internasional inilah yang mungkin dapat digunakan sebagai sarana pemulih ekonomi global dari kesalahan sistem sebelumnya.

Sistem ekonomi Islam nyatanya sedang ditawarkan sebagai solusi atas kegagalan kapitalisme liberal. Namun ia belum cukup kuat pada posisinya untuk diterapkan dalam skala global. Bahkan dalam kancah nasional belum ada satu Negarapun yang secara resmi mengadopsinya sebagai system yang sah berlaku di wilayahnya. Balum ada model yang ideal untuk ditiru sebagai acuan penerapannya.

Meski demikian system ini terus dikembangkan di banyak Negara bahkan di Negara-negara nonmuslim sekalipun. Di sisi lain IDB dengan harapan yang sangat besar berencana membangun kantor di negeri ini salam upayanya mengembangkan system ekonomi Islam tersebut (republika okt 2010). Adakah negeri ini mau membawakan solusi? 

Ah… aku hanya melemparkan pandangan. Biarkan sang nahkoda yang kemudikan layar. Semoga tulisan ini benar bermanfaat.

(Bogor, 12 juli 2012. Ahmad Yasin)

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...