Selasa, 21 Januari 2014

Agar Kamu Tidak Menimpakan Musibah


"Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku?" tanya seorang sahabat
"Itu ghibah, sedang jika tidak benar itu adalah fitnah" jawab sang Nabi

Sebagai seorang muslim budaya interaksi kita dalam masyarakat, organisasi, dan lingkungan, semestinya tidak mengenal istilah fitnah, tapi upaya 'klarifikasi' atau bahasa islaminya tabayun. Islam hadir membawakan angin segar bagi transparansi informasi dengan mengedepankan hak-hak ukhuwah tanpa mengecilkan sarana penegakkan hukum. itulah sebabnya kita tidak membudayakan ghibah meski dalam hal-hal tertentu kadang diperlukan. sayangnya sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian yang mendalam (mungkin secara tidak sengaja) itu malah dibiasakan untuk dilakukan.

Sedang kita yang berada pada iklim tersebut seringkali (disengaja ataupun tidak) menjadi penyambung informasi yang kata nabi, jika tidak benar engkau telah melakukan 'fitnah'. Padahal kata Allah:


"... bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan FITNAH ITU lebih besar bahayanya dari pembunuhan"(Al Baqarah: 191)

Mari beristighfar kepada Allah, semoga Ia mengampuni segala dosa kita. Kawan kita bukan diajarkarkan untuk tidak percaya kepada saudara kita yang membawakan berita, tapi kita diminta untuk berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai kita turut serta dalam menyebarkan sesuatu yang seringkali kita sendiri belum tahu tentang kebenarannya. Cobalah tanyakan tentang sumber beritanya...

Jika jawabanya
"Saya tahu dari si ..." maka berhati-hatilah, karena sumbernya mungkin akan mengatakan hal yang sama, mungkin sampai kita kesulitan menemukan pembuat beritanya

"Saya lihat langsung kok 'sepertinya' memang demikian" maka tanyakanlah
"lho kamu tidak mengingatkan?" atau
"sudah kamu tanyakan, apa alasannya?" atau
"sama siapa aja kamu liatnya?"

Kawan, seringkali kita terbawa 'asumsi' yang berujung 'justifikasi' tanpa pernah memberikan ruang 'klarifikasi'. Bukankah kita selalu diminta untuk berhati-hati dalam hal ini. Cobalah tanyakan kepada objek pemberitaan, dengarkan klarifikasinya...

"Saya heran, kenapa mereka tak ada yang menanyakan ini ke saya."
"Begitu ya, kamu tau itu dari mana itu."
"Apa saya salah? waktu itu sama sekali tidak ada yang mengingatkan saya, saya pikir tidak apa-apa."
"Ah gak ada kok yang nanya kesaya, mereka menyimpulkan semuanya dan mencemarkan nama saya, tanpa melakukan klarifikasi kepada saya."
"Itu bohong, saya hanya ..."

Kadang saat ditanyakan, kita justru memukan mereka sebagai orang yang terzalimi. Meski demikian, kita tetap harus jeli melihat siapa yang membela diri, dan siapa yang benar-benar terzhalimi, setidaknya kita telah melakukan usaha untuk memeriksa kebenaran. Dan kehati-hatian kitalah (dengan bimbingan Allah tentunya) yang akan menuntun kita untuk menilai siapa yang benar dan siapa yang lebih benar (atau mungkin siapa yang salah) dengan presfektif yang lebih luas.

Semoga Allah mencatat kehati-hatian itu sebagai sebuah amal kebaikan bagi diri kita, agar keridhoan-Nya mengantarkan kita pada keputusan yang tepat untuk menyikapi sebuah masalah. Beruntung sekali kita jika kemudian Ia mempercayakan kita sebagai perantara hidayah-Nya. Maka berbahagialah saat kau dengar mereka mengtakan

"jazakallah atas pengingatannya, tolong ingatkan saya lagi jika terulang" atau
"ya itu salah saya, saya berusaha memperbaiki, antum ada saran?"

Mungkin sudah terlalu sering kita mendengar cerita tentang fitnah yang menimpa Aisyah ra. yang Allah langsung turun tangan menggugurkan tuduhan-tuduhan itu. Tidak hanya menghapuskan fitnah, Allah pun memberikan teguran keras bagi orang-orang yang beriman dalam sikap mereka menanggapi setiap berita yang diterimanya.

kawan, mari dengarlah bagaimana Allah yang Maha Penyayang itu memanggil kita "Hai orang-orang yang beriman" Ia yang Maha Mengetahui, mengambarkan tentang sebuah situasi yang mungkin akan kita alami, "jika datang kepadamu orang fasik, membawa suatu berita," kemudian memberikan jalan keluar atasnya "maka periksalah dengan teliti," sungguh Dia yang Maha Bijaksana itu tidak ingin engkau terjebak dalam dosa dan keburukan yang lebih besa "agar kamu tidak menimpakan suatu musibah, kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya" (Al Hujjurat:6)

Bogor 21-1-2014
_Yasin

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...