Jumat, 18 Desember 2009

Mengenang malam2 Hijrah

Malam-malam itu begitu mencekam... ketika Ali Harus bersedia menggantikan posisi tidur nabi, meski ia tahu nyawalah taruhannya. Kemudian Abu bakar yang rela tersengat ular demi menjaga nabinya. Juga Asma bin abubakar dialah yang mensuplai makanan untuk ayah dan sahabatnya kala mereka bersembunyi, meski ia pun dalam kondisi yang berat. Itulah mengapa ia digelari wanita dengan 2 ikat pinggang. Lalu Abdullah bin abubakar yang menjadi intel, demi tersampaikannya informasi yang untuk menysun langkah dan strategi. Amr bin fuhair lah penghapus jejaknya dengan pengmbalaan kambing. Agar musuh tak mencium keberadaan saudaranya. Bahkan Abdullah bin Araiqith harus disewa sebagai petunjuk jalan bagi kelancaran misi ini. Karena qta tak boleh gegabah dalam melangkah.

Sunnguh kemenangan itu diawali dari kematangan strategi sedari awal kita melangkah. Dan pengorbanan adalah harga untuk sebuah kemenangan.

Di dalam perjuangan

Berlindung dalam gua dengan strategi yang mengagumkan, tapi musuh tetap membacanya dengan kekuatan yang mereka miliki. Maka lihatlah bagaimana Allah menyelamatkan rasulnya sejak ia keluar dari rumah. Kini dalam perjalannannya seorang musyrik mengejar dengan kuda senjata ditangannya. Ada kekhwatiran di wajah abu bakr, namun sang rasul tetap tenang dalam do’anya. Dan atas kuasanya kuda itu terus terpelanting, hingga ia merubah niat nya.

Sungguh perjuangan itu selalu penuh rintangan yang kadang membuat kita putus asa. Namun yakinlah Allah selalu bersama kebenaran. Maka jangan kesampingkan Ia dalam setiap langkah Qta, jika kita memang dalam kebenaran.

Pemimpin dan rakyat

Madinah bergemuruh menyambut kedatangan manusia pilihan. Begitu banyak sahabat yang menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara untuk baginda yang mulia. Namun untanya terus berjalan tanpa ada seorangpun yang tahu mana yang dituju. Hingga mereka brhenti pada sebuah tanah milik anak yatim (Sahal dan Suhai, keduanya anak Amr bin Amarah di bawah asuhan Mu'adz bin Atrah). Kemudian rasul dipersilahka tinggal sementara di rumah Abu Ayub.

Pemimpin itu adalah orang yang paling tahu koodisi rakyatnya.

Hidup berdampingan dengan rakyat biasa bukanlah aib bagi seorang rasul, apalagi hanya pemimpin biasa.



Ahmad Yasin

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...