Selasa, 14 Oktober 2014

Karena, Kau Sahabatku


"Mas Puasa?"
(diam)
"Mas Puasa?"
(mengangguk)
"Lho, Mas kan tadi kesiangan" (Memastikan)
"Iya"
"Mas kan nggak sahur" (Heran)
"Tadi sudah tidak Qiamulail, kalau gak puasa juga malu sama Allah" (Tersenyum)
(menunduk, akupun juga malu pada orang-orang yang malu pada Allah mas)

*Sebuah percakapan suami-istri.

dalam cerita kehidupan ini ada orang yang cukup dengan disebutkan namanya mereka mengingatkan kita pada Sang Kuasa, tetapi ada orang-orang yang disebut namanya hanya mengundang amarah, dengki yang merusak kesucian hati. Ada orang yang ketika kita melihat wajahnya mengingatkan kita pada penghambaan yang tinggi hanya kepada-Nya, tetapi ada juga orang yang wajahnya mengajak kita pada kesenangan duniawi yang fana. Ada orang yang bicaranya menggetarkan hati kita ketika hampir membeku, tetapi ada juga orang yang bicaranya justru membangkitkan penyakit-penyakit hati yang pernah dengan susah payah kita obati. Ada orang yang teriakannya membuat kita menggigil ketakutan akan dosa-dosa kita kepada Tuhan, tetapi ada juga yang teriakannya justru membuat tertawa terpingkal-pingkal melupakan-Nya yang tak henti memperhatikan kita.

Lalu dimanakah kita dimata orang lain? yang pertama, atau yang kedua? atau bahkan tidak keduanya, jika demikan untuk apa kita hadir ke dunia...

Sobat ketahuilah, setiap kita memancarkan pesona. dan pesona itu lahir dari kualitas keimanan, sedang ketaatan kita pada Sang Pencipta adalah bentuk Nyata dari keimanan itu sendiri... tak ada yang bisa mengukur kadar keimanan seseorang kecuali Allah. hanya saja pada siapa yang Allah berikan kepekaan hati, ia akan merasakan getaran getaran keimanan itu terpancar dari jiwa-jiwa manusia. tidakkah kita merasakannya? atau hati kita yang sudah mati?

Aku berlindung kepadamu ya Allah dari hati yang mati. Untuk semua yang membaca tulisan ini, Aku memohon dengan sangat, jika suatu saat Hatiku mati lebih dahulu sebelum jasadnya, bangunkanlah! karena bisa jadi ia hanya tak sadarkan diri. Atau jika ia memang benar-benar mati, jangan putus doa untuknya, karena hanya Dia-lah yang dapat menghidupkan.

Aku percaya kau akan benar-benar melakukannya. Ya, karena kau Sahabatku. semoga aku tak salah memilih mu.

3 comments:

welda yunita mengatakan...

yasiiiiiiiiiiiiinnn,aku merinding baca tulisanmu sin, iya aku pun juga pernah beberapa kali terlintas pikiran seperti itu, kira-kira apa pendapat orang mengenai diriku dan akan dikenang sebagai apa kalau aku sudah tidak ada lagi, astaghfirullah, mari berbenah diri, aku share ya?boleh kah?

ahmad yasin mengatakan...

Makasi, silahkan di seber Wel, semoga bisa bermanfaat buat banyak orang...

ahmad yasin mengatakan...

*sebar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...