Senin, 12 November 2012

Bai’atul aqobah kedua


Simaklah cerita yang dikisahkan langsung oleh ka’ab bin malik, serta beberapa orang lainya yang menjadi saksi dan turut mengambil peran dalam pembaiatan ini.

Kami keluar untuk melaksanakan manasik haji, dan kami berjanji kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasalam untuk betemu di Aqobah pada pertengahan hari-hari tasyriq, di malam hari. Ketika itu Abdullah bin Amru bin Haram ikut bersama kami. Dia salah seorang pemimpin kami. Kami merahasiakan urusan kami kepada orang-orang musrik yang ikut bersama kami.

Kami berbicara kepada Abdullah bin Amru, “wahai abu jabir, anda adalah salah seorang dari pemimpin kami, kami tidak menginginkan Anda tetap berada dalam keadaan sekarang ini sehingga Anda menjadi bahan bakar neraka kelak.”


Kemudian kami serukan Islam kepadanya dan kami kabarkan kepadanya janji Rasulullah shallallahu ‘alaiwasallam kepada kami di Aqabah. Iapun memeluk Islam, lalu ikut serta dalam bai’at Aqabah, dan menjadi naqib,”

Pada malam itu, kami tidur bersama rombinggan kaum kami. Kertika larut malam , kami keluardengan sembunyi-sembunyi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam sampai kami berkumpul di sebuah lembah di pinggir Aqabah. Kami waktu itu berjumlah tujuh puluh oaring laki-laki dan dua orang wanita, Nasibah bin ka’b (Ummu Imarah) dari Mazin bin an-Najjar, dan Asma binti Amru (Ummu Mani’) dari bani salamah. Di lembah itu kami berkumpul menunggu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam sampai beliau dating bersama pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib yang ketika itu belum memeluk Islam. Ia turut hadir untuk membuktikan sendira apa yang dihadapi keponakannya. Abbas adalah pembicara pertama.

Setelah semuanya Hadir Abbas bin Abdul muthalib , paman Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam menjelaskan kepada meraka tenteng pentingnya tanggung jawab yang akan mereka pikul sebagai konsekuensi dari perjanjian tersebut. Ia berkata :

“Wahai orang-orang Khazraj sebagaimana kalian telah ketahui, Muhammad adalah kerabat kami. Kami melindungnya dari gangguan orang-orang yang sependapat dengan kami mengenai dia. Ia mendapat perlindungan dari kerabatnya sendiri dan di negerinya sendiri. Tetapi ia menginginkan bergabung dengan kalian. Jika kalian bersungguh-sungguh akan setia kepadanya dan kepada agama yang diserukannya, dan kalian sanggup melindunginya dari gangguan orang-orang yang memusuhinya, maka tanggung jawab keselamatannya aku serahkan kepada kalian. Tetapi jika kalian tidak snggup melindunginya dan ingin menyerahkannya kepada musuh-musuhnya setelah ia bergabung dengan kalian, maka mulai sekarang tinggalkan saja dia karena ia sudah berada di bawah perlindungan kerabatnya di negerinya sendiri.”

Ketika itu kami menjawab, “kami telah mendengar apa yang Anda katakana. Sekarang kami meminta agar Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam berbicara sendiri kepada kami. Wahai Rasulullah, katakana apa yang ingin Anda dan Rabb anda inginkan dari kami.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam berbicara dan membacakan Al-Qur’an. Beliau mengajak supaya mengimani Allah dan memberikan dorongan kepada Islam, kemudian beliau bersabda: “Aku membaiat kalian untuk membelaku sebagaimana kalian membela istri-istri dan anak-anak kalian.”

Kemudia Barra bin ma’rur menjabat tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam seraya mengucapkan: “demi Allah yang telam mengtusmu sebagai seorang nabi dengan membawa kebenaran, kami berjanji akan membelamu sebagaimana kami membela diri kami sendiri. Bai’atlah kami wahai Rasulullah! Demi Allah, kammi adalah orang-orang yang ahli perang dansenjata secara turun temurun.”

Kemudian Abdul Haitsam berkata: “Wahai Rasulullah kami terikat oleh suatu perjanjian dnegan orang-orang yahudi, dan perjanjian itu kan kami putuskan. Kalau semua itu telah kami lakukan, kemudian Allah memenangkan engkau, apakah engkau akan kembali lagi kepada kaummu dan memninggalkan kami ”

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam tersenyum lalu berkata: “darah kalian adalah darahku, negeri kalian adalah negeriku; aku bagian dari kalian dan kalian bagian dari ku. Aku akan melawan siapa saja yang memerangi kalian dan aku akan berdamai dengan siapa saja yang berdamai dengan kalian”

Ketika mereka bersepakat melakukan bai’at, al-Abbas bin Ubadah berkata: “tahukah kalian untuk apa kalian berbaiat kepada orang ini?”

Mereka menjawab, “ya, kami mengetahui”

Abbas berkata, “Kalian berbaiat kepada beliau untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan hitam. Apabiala suatu saat nanti harta kalian habis, pemimpin-pemimpin kalian terbunuh, lalu kalian menyerahkan beliau kepada musuh-musuhnya, maka sejak sekarang tinggalkan saja ia. Demi Allah jika kalian melakukan hal itu, sesungguhnya itu adalah sehina-hinanya dunia dan akhirat. Tetpi jika kalian bersungguh-sungguh untuk setia kepadanya dan kepada agama yang diserukannya meskipun harta kalian habis, pemimpin-pemimpin kalian terbunuh, ikutilah dia. Demi Allah hal itu sebaik-baiknya dunia dan Akhirat”

Meraka berkata, “Kami akan mengikutinya meskipun harta kami habis dan pemimpin-pemimpin kami terbunuh. Wahai Rasulullah balasan apa yang akan kami peroleh jiak kami melakukan hal itu?”

Rasulullah menjawab, “syurga”

Mereka berkata, “ulurkan tangan Anda”

Beliau mengulurkan tangannya, maka kami berbaiat kepadanya.
sumber : buku sirah nabawiyah o/ Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...