Jumat, 23 Desember 2011

Otimisme dan Tawakkal (Kenangan OSN-Pertamina 2011)


# Keinginan untuk mundur, tentu saja ada. Alasannya sedang ujian, agenda kepanitaan yang menghitung minggu, soal open yang tak terselesaikan, dll. Tapi Islam mengajarkan kita untuk ‘tidak pernah putus asa, apapun alasannya’ #

Selepas seleksi tahap semi final, kami –enam semi finalis- antara pantas atau tidak, dengan ragu terus berharap, semoga sebuah keajaiban datang sekali lagi. Ya, kami semua mengharapkan untuk bisa lolos ke tiga besar tingkat nasional di Olimpiade Sains Nasional Pertamina 2011 (OSN-Pertamina 2011) itu, mengingat langkah yang kami sudah jauh, juga dukungan teman-teman yang luar biasa. Ditambah lagi kami semua membawa nama baik universitas dan provinsi masing-masing yang keduanya itu menjadi beban tersendiri saat kembali nanti.

Sebuah kertas soal seleleksi semi final bidang fisika yang tergeletak di sebuah meja menampakkan coretan “Bahkan kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi, satu detik setelah saat ini”. Semoga redaksinya benar, tapi setidaknya maksudnya sama. Yang menulisnya pastilah salah satu dari enam semi finalis yang baru saja keluar dari ruang seleksi, entah siapa dan apa maksudnya. Tetapi saat membacanya, penulis hanya teringat pada Allah yang maha kuasa. Tulisan itu boleh jadi menggambarkan keputusasaan, tapi juga sebuah tawakkal –berserah diri- pada sang pencipta atas usaha yang menurutnya sudah maksimal. Sampai disini kita tidak bisa memprediksi apa yang ada di benak pemilik kertas tersebut ketika menggoreskan tintanya disana.

Pengalaman OSN memberi banyak pelajaran bagi kami. Proses seleksi yang bertahap terus memperluas wawasan dan pengalaman. Karena dengan itu kami terus berusaha meningkatkan kemampuan setiap kali lolos dari tahap seleksi mulai provinsi, final provinsi, seleksi nasional, semi final nasional, hingga ke final nasional. Perjalanan itu mengajarkan kami untuk tidak putus asa, terus berharap dan berusaha maksimal, namun juga berdo’a dan bertawakkal.
Maka itulah yang membuat penulis mampu menyelesaikan syarat mengukuti seleksi nasional ketika pengumuman pemenang provinsi hanya berkisar dua puluhan hari sebelum seleksi final dilakukan, di tengah Ujuan Tengah Semester (UTS) yang juga menyita pikiran. dan waktu itu penulis sedang menjadi ketua panitia sebuah event skala nasional. Beberapa hari setelah pengumuman, keluarlah empat soal open sebagai syarat seleksi nasional. Kempat soal tersebut meminta pembuatan empat makalah dengan topik-topik yang ditentukan, berdasarkan hasil eksperimen dan analisa teoritik. Entah optimal atau tidak, hari-hari itu diisi dengan belajar untuk UTS, sedikit kegiatan-kegiatan kepanitiaan, tutorial soal olimpiade, Ujian Tengah Semester, konsultasi dengan dosen terkait soal open yang disyaratkan tersebut. juga yang gak kalah penting mengurus perizinan terkait ketidak ikut sertaan dalam kegiatan perkuliahan sepanjang berjalannya seleksi dan final nasional nanti. Maka UTS yang bisanya dikondisikan tenang, pun terganggu.
Keinginan untuk mundur, tentu saja ada. Alasannya sedang ujian, agenda kepanitaan yang menghitung minggu, soal open yang tak terselesaikan, dll. Tapi Islam mengajarkan kita untuk ‘tidak pernah putus asa, apapun alasannya’. Dan itulah yang membuat penulis terus berusaha seoptimal mungkin. Itulah juga yang menjadikan penulis semakin mendekatkan diri pada sang khaliq. kemudian dukungan datang begitu saja dari teman-teman seperjuangan, dosen dan lainnya. Hingga semua terasa mudah. Bahkan ketika PIC setempat (provinsi) sama sekali tidak memberikan info terkait agenda seleksi. Hingga suatu malam, panitia seleksi pusat menghubungi terkait agenda malam itu sedangkan penulis hanya menerima pengumuman terkait seleksi yang akan dilakukan besok pagi. Terbayanglah apa yang terjadi ketika panitia meminta kehadiran secepatnya atau gugur. Padahal sebelumnya PIC setempat tidak memberi tangggapan ketika dihubungi.
Proses seleksi olimpiade tinggat nasional akhirnya berjalan dengan baik, menyertakan hanya juara 1 provinsi dari seluruh Indonesia dengan empat bidang yang dipertandingkan yaitu matematika, fisika, kimia, biologi. Berbagai pengalaman menarik. Bertemu dengan para juara provinsi, menjalin persaudaraan yang tak terbatas waktu. Membangun semangat berkarya untuk bengsa. Berbagi kisah tentang sumber daya negeri ini yang membangkitkan kembali harapan. 
Alhamdulillah penulis berkesempatan masuk babak semi final atau enam besar nasional bidang fisika. Sebuah pengalaman yang menarik, semoga menjadi awal untuk prestasi-prestasi selanjutnya. Dan semoga tulisan ini bermanfaat agar Allah menilainya sebagai sebuah kebaikan. Trimakasih untuk semua pihak yang membantu penulis waktu itu. [Bogor, 23 Desember 2011, Ahmad Yasin]
***


Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Qs.At-Thalaq, 65:7)

… dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Qs.At-Thalaq, 65:4)

2 comments:

Yeni Rahayu mengatakan...

Semoga ukhuwah yg terbangun antar peserta tetap terjalin. OSN Pertamina 2011 memang sebuah pengalaman berharga.
:)

ahmad yasin mengatakan...

Amiin..! teruslah berdoa kawan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...